Cara membuat press release yang diterima media
Press release yang baik bukan sekadar pengumuman — ia harus terasa seperti berita. Panduan ini membahas struktur, format, dan cara penulisan yang membuat editor media tertarik memuatnya.
Apa itu press release?
Press release — atau siaran pers — adalah pernyataan resmi tertulis yang disiapkan perusahaan atau organisasi untuk disebarkan ke media. Tujuannya satu: agar informasi dari brand Anda diliput dan dipublikasikan sebagai berita.
Berbeda dari iklan yang berbayar dan jelas berpromosi, press release yang berhasil terbit muncul sebagai konten editorial — lebih dipercaya pembaca dan jauh lebih kredibel untuk brand.
Struktur press release yang benar
Hampir semua media nasional Indonesia mengharapkan format yang sama. Berikut struktur yang harus diikuti:
Keterangan waktu rilis
Tuliskan “UNTUK SEGERA DIRILIS” di bagian paling atas, atau jika ada embargo: “EMBARGO: [tanggal dan jam]”. Ini memberitahu editor kapan berita boleh dipublikasikan.
Judul yang mengandung berita
Judul harus menyampaikan nilai berita secara langsung — bukan tagline iklan. Gunakan kalimat aktif, maksimal 10 kata. Contoh yang salah: “Kami Bangga Memperkenalkan Produk Revolusioner Kami” → Contoh yang benar: “PT XYZ Luncurkan Aplikasi Keuangan untuk 10 Juta UMKM Indonesia”
Lead paragraph (teras berita)
Paragraf pertama harus menjawab 5W+1H: What, Who, When, Where, Why, How. Ini adalah bagian terpenting — banyak editor hanya membaca lead sebelum memutuskan apakah akan meliput atau tidak. Panjang ideal: 2–3 kalimat.
Body — detail & kutipan
Kembangkan informasi dengan metode piramida terbalik: paling penting di atas, lalu semakin detail ke bawah. Sertakan minimal satu kutipan langsung dari CEO atau spokesperson — ini yang membuat press release terasa otentik. Panjang total: 400–600 kata.
Boilerplate & kontak media
Bagian “Tentang [Perusahaan]” — 2–3 kalimat profil singkat yang sama di setiap press release. Diikuti nama, email, dan nomor kontak person yang bisa dihubungi media untuk klarifikasi.
5 kesalahan yang sering membuat press release ditolak
1. Terlalu promosi. Kata seperti “terdepan”, “revolusioner”, “terbaik di kelasnya” adalah tanda press release akan dibuang. Editor butuh fakta, bukan superlative.
2. Tidak ada angle berita. “Kami membuka kantor baru” bukan berita. “Kami membuka kantor ke-10 dan menargetkan 500 karyawan baru di Surabaya tahun ini” — itu berita.
3. Terlalu panjang. Lebih dari 700 kata tanpa subheading adalah press release yang tidak akan dibaca sampai habis. Potong yang tidak esensial.
4. Tidak ada kutipan. Press release tanpa kutipan langsung terasa dingin dan tidak manusiawi. Satu kutipan dari direktur atau CEO sudah cukup mengangkat kualitas keseluruhan.
5. Kirim ke media yang tidak relevan. Press release tentang produk kecantikan dikirim ke media teknologi hampir pasti diabaikan. Relevansi audiens media sama pentingnya dengan kualitas naskah.
Setelah menulis: cara distribusinya
Naskah yang sudah selesai perlu sampai ke tangan editor yang tepat. Ada dua cara utama:
Kirim mandiri
Cari email redaksi tiap media satu per satu, kirim manual. Butuh waktu berhari-hari dan database kontak yang valid dan up-to-date.
Pakai layanan distribusi
Kirim sekali, tayang di 50–200+ media sekaligus. Lebih cepat, lebih luas, dan dapat laporan tayang terverifikasi.
Lihat layanan MediaRilis →Butuh contoh konkret? Lihat 7 contoh press release siap pakai → atau langsung gunakan jasa penulisan MediaRilis jika tidak ingin menulis sendiri.
Artikel terkait
Pelajari definisi lengkap sebelum mulai menulis.
Komponen wajib di akhir setiap press release.
Lihat topik PR spesifik untuk industri Anda.
Sudah siap tulis — tinggal distribusinya
MediaRilis distribusikan press release Anda ke 200+ media aktif Indonesia. Laporan tayang 1×24 jam.